KEPAHIANG,- Pemkab Kepahiang mulai menjajaki transformasi energi bersih dengan menggali potensi energi baru terbarukan (EBT). Langkah strategis ini diawali melalui kegiatan hiking wisata sekaligus eksplorasi potensi panas bumi (geothermal) yang dipimpin langsung oleh Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, S.IP bersama Wakil Bupati Ir. Abdul Hafizh, M.Si, di Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, Sabtu (17/1/2026).
Agenda eksplorasi lapangan yang dipandu oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat ini menggabungkan promosi ekowisata daerah dengan peninjauan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian refleksi memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten Kepahiang.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayfeiandro, Dandim 0409/Rejang Lebong Letkol Agung Lewis Oktorada, jajaran pimpinan DPRD, perwakilan manajemen PT PLN (Persero) WKP Sumbagsel, serta kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Potensi Andal Berbasis Energi Bersih
Kabupaten Kepahiang dinilai memiliki modalitas geologis yang kuat untuk mendukung ketahanan energi nasional. Direktur Utama PT Cakrawala Kepahiang Geothermal, Ontowiryo Alamsyah, mengungkapkan bahwa potensi panas bumi di wilayah ini diperkirakan mencapai $2 \times 55$ Megawatt (MW). Potensi tersebut sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).
“Konstruksi fisik proyek ini direncanakan mulai berjalan pada tahun 2026 dengan target komersial penuh atau commercial operation date pada 2030. Dengan kapasitas mencapai $2 \times 55$ Megawatt, Kepahiang berpeluang besar menjadi daerah yang mandiri energi berbasis teknologi ramah lingkungan,” ujar Ontowiryo.
Dari aspek tata ruang, proyek PLTPB memiliki keunggulan komparatif yang tinggi jika dibandingkan dengan infrastruktur energi konvensional lainnya. Perwakilan PT Cakrawala Kepahiang Geothermal, Tony Widiatmo, menjelaskan bahwa pembangkit panas bumi sangat efisien dalam penggunaan lahan sehingga tidak mengokupasi area yang luas seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Selain minim dampak terhadap bentang alam, teknologi ini mengadopsi sistem sirkulasi tertutup. Sisa uap panas yang dilepaskan bahkan dapat diintegrasikan (cascading) untuk mendukung hilirisasi sektor pertanian lokal. Uap tersebut bisa dimanfaatkan sebagai media pengering komoditas unggulan daerah, seperti kopi dan padi, guna meningkatkan nilai tambah ekonomi petani.

Multiplier Effect bagi Ekonomi Daerah
Pemkab Kepahiang menyambut positif kemitraan strategis antara PT PLN (Persero) dan PT Cakrawala Kepahiang Geothermal dalam merealisasikan proyek strategis nasional ini. Bupati Kepahiang Zurdi Nata menegaskan, proyek investasi hijau ini harus mampu memberikan dampak rembesan ke bawah (trickle-down effect) yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
“Kehadiran PLTPB ini tidak hanya akan memperkuat keandalan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera bagian selatan, tetapi juga menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi daerah. Kami menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal secara optimal serta tumbuhnya sektor ekonomi turunan di sekitar wilayah proyek,” tutur Zurdi Nata.
Melalui sinergi investasi yang berkelanjutan dan pelestarian fungsi lingkungan di kawasan Kabawetan, pengembangan potensi geothermal ini diharapkan mampu mereposisi Kabupaten Kepahiang sebagai salah satu lumbung energi hijau masa depan di Pulau Sumatera.(*/adv)
Penulis : Defi Parisa
Editor : Tiwi Supiah









