Dari Bengkulu untuk Dunia: Ikhtiar I Nyoman Candra Menjinakkan Karbon Mikro

- Redaksi

Rabu, 8 Juli 2026 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, S.Si., M.Sc. saat menempuh studi di  luar negeri.(dok I.N Chandra)

Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, S.Si., M.Sc. saat menempuh studi di luar negeri.(dok I.N Chandra)

BENGKULU,- Di tengah kecemasan global terhadap ancaman perubahan iklim, sebuah sumbangsih ilmiah lahir dari rahim perguruan tinggi di Bengkulu. Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, M.Sc., dosen sekaligus peneliti Kimia Lingkungan dari Universitas Bengkulu (UNIB), tengah bersiap membawa nama Indonesia ke panggung sains Eropa melalui riset penyelamatan atmosfer bumi.

Nyoman berhasil lolos seleksi ketat dalam program Joint Excellence Science and Humanities (JESH) tahun 2025. Fellowship pascadoktoral (postdoctoral) yang didanai oleh Österreichische Akademie der Wissenschaften (OeAW) atau Akademi Sains Austria ini memberinya kesempatan untuk melakukan riset mendalam selama enam bulan di Boku University, Wina, Austria, sebuah kampus yang bertengger di jajaran QS 100 berdasarkan bidang ilmu (by subject).

Bagi Nyoman, Wina bukanlah kota yang asing. Ia menyelesaikan studi doktoralnya di Boku University. Namun, kepulangannya ke Austria kali ini membawa misi ekologis yang krusial bagi masa depan planet kita.

Menjinakkan Karbon lewat Pelapukan Batuan

Fokus penelitian Nyoman kali ini terdengar sangat teknis, namun dampaknya langsung menyentuh kehidupan nyata: pelapukan batuan (rock weathering) sebagai penyerap alami gas rumah kaca.

Baca Juga :  Ulasan Nemesis – acara polisi yang sangat menghibur yang menampilkan bintang-bintang The Wire | Drama kriminal TV

Ketika emisi karbon dioksida (CO2) kian mengepung bumi dan memicu pemanasan global, Nyoman melihat potensi besar pada reaksi kimia alami batuan silikat (CaSiO3). Melalui proses pelapukan yang melibatkan air dan udara, batuan ini rupanya “memakan” karbon dioksida di atmosfer dan mengubahnya menjadi senyawa yang lebih aman bagi lingkungan.

Secara sederhana, proses tersebut digambarkan dalam reaksi kimia berikut:

CaSiO3​ + 2CO2 ​+ 3H2​O → Ca2+ + 2HCO3​ + H4​SiO4

Melalui reaksi ini, gas karbon dioksida yang terjebak di atmosfer berhasil dikurangi secara signifikan. Riset Nyoman diharapkan mampu melahirkan strategi baru dalam mitigasi perubahan iklim global.

Bukan kali ini saja dedikasi risetnya diakui dunia. Pada periode 2024-2025, Nyoman juga dianugerahi beasiswa Fulbright Visiting Scholar di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Di sana, ia meneliti rahasia karbon organik pada tanah vulkanik. Penelitian tersebut sangat relevan dengan Indonesia yang berada di jalur cincin api (Ring of Fire), di mana tanah vulkanik melimpah dan memiliki potensi besar untuk mengunci karbon agar tidak lepas bebas merusak atmosfer.

Baca Juga :  Skor Brewers vs Astros malam ini, pembaruan pertandingan langsung, sorotan, lineup awal
Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, S.Si., M.Sc. bersama para peneliti lainnya saat mengikuti Fullbright Award Orientation and Networking belum lama ini. (dok IN Chandra)

Jembatan Sains Global

Program JESH sendiri merupakan inisiatif prestisius yang dirancang Pemerintah Austria untuk menjembatani kolaborasi antara peneliti muda berbakat dari 61 negara (termasuk Indonesia) dengan para ilmuwan senior di Austria. Program ini menyasar para peneliti karier dengan pengalaman maksimal 10 tahun setelah lulus jenjang S-3.

Bagi para akademisi dan peneliti Indonesia yang ingin mengikuti jejak Nyoman, peluang untuk program keberangkatan tahun depan baru saja ditutup pada 7 Juli 2026. Namun, gerbang kolaborasi ini biasanya akan kembali dibuka pada periode Maret hingga Juli tahun depan melalui laman resmi stipendien.oeaw.ac.at/stipendien/jesh.

Langkah kaki I Nyoman Candra dari laboratorium UNIB menuju pusat riset di Eropa menjadi bukti nyata bahwa solusi atas krisis iklim global bisa datang dari mana saja, termasuk dari ketekunan seorang dosen di sudut pesisir barat Sumatra.(*)

Penulis : Agung Mandala

Editor : Tiwi Supiah

Berita Terkait

Polres Benteng Salurkan Bansos pada Korban Kebakaran Desa Tiambang
Bikin Bangga! Tembus Kancah Nasional, 6 Siswa SMPN 3 Benteng ‘Taklukkan’ Jamnas XII Cibubur
Bertabur Hadiah, Bank Bengkulu Sukses Gelar Penarikan Undian Nasional Simpeda
Bank Bengkulu Jadi Tuan Rumah Seminar Nasional dan Undian Simpeda XXXVII-2026
Bank Bengkulu Dukung Perlindungan 1.000 Atlet KONI Bengkulu
Brigade Bersihkan Atap Sumsel: Imbau Pendaki Jaga Kelestarian Dempo
Hampir Satu Dekade Menguasai Pasar, Dulux Sabet Top Brand Award 2026
George dan Amal Clooney mengevakuasi rumah Prancis di tengah kebakaran hutan

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Polres Benteng Salurkan Bansos pada Korban Kebakaran Desa Tiambang

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:45 WIB

Bikin Bangga! Tembus Kancah Nasional, 6 Siswa SMPN 3 Benteng ‘Taklukkan’ Jamnas XII Cibubur

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:37 WIB

Bertabur Hadiah, Bank Bengkulu Sukses Gelar Penarikan Undian Nasional Simpeda

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Bank Bengkulu Jadi Tuan Rumah Seminar Nasional dan Undian Simpeda XXXVII-2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 09:05 WIB

Bank Bengkulu Dukung Perlindungan 1.000 Atlet KONI Bengkulu

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Hampir Satu Dekade Menguasai Pasar, Dulux Sabet Top Brand Award 2026

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:36 WIB

George dan Amal Clooney mengevakuasi rumah Prancis di tengah kebakaran hutan

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:23 WIB

Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.

Berita Terbaru