Oleh:
Yusliadi Y, S.P
(Direktur POLRIST Institute)
Sebuah konsep besar yang bernafaskan “Bantu Rakyat” sejatinya adalah arah kebijakan yang sangat jelas dan berpijak pada kepedulian mendalam terhadap kondisi masyarakat. Namun, seringkali terjadi kesenjangan ketika gagasan mulia tersebut belum sepenuhnya dicerna dan diterjemahkan menjadi gerakan nyata oleh seluruh elemen yang seharusnya menjadi motor penggeraknya. Terlihat adanya fenomena di mana banyak pihak, baik di tingkat pimpinan maupun pelaksana, seolah masih berjalan sendiri-sendiri. Ada pemisahan pemahaman yang membuat koordinasi, keterhubungan, dan pengendalian langkah menjadi tidak sinkron antara gagasan di atas dengan aksi di lapangan.
Salah satu persoalan mendasar yang perlu direnungkan bersama adalah “kemandegan ide” atau minimnya inovasi di tataran manajemen organisasi. Banyak unsur pimpinan di tingkat bawah yang seolah kehilangan gagasan kreatif. Mereka kurang memiliki inisiatif untuk melahirkan ide-ide konkret dalam rangka menyambut, menindaklanjuti, dan mengoperasionalkan konsep besar tersebut. Padahal, sesungguhnya sebuah organisasi haruslah menjadi ruh dan penyangga utama, yang dominan meresapi, menurunkan, dan menjadikan kebijakan pimpinan sebagai pedoman kerja di seluruh lini. Seharusnya, instruksi dan konsep dari puncak itu diterjemahkan menjadi gerakan nyata mulai dari tingkat daerah hingga ke tingkat terbawah. Namun realitasnya, transformasi dari “konsep” menjadi “aksi teknis” ini masih terasa sangat lambat dan belum masif.
Dalam upaya mengajak semua pihak bergerak secara kolektif, seringkali kita dihadapkan pada realitas yang pahit. Tidak semua pihak memiliki kesiapan yang sama untuk bahu-membahu. Ada fenomena di mana semangat kebersamaan seolah menjadi “mahal” harganya ketika ditawar dengan kepentingan jangka pendek. Banyak yang lebih memilih diam atau berjarak, seolah lupa bahwa tugas utama dari sebuah wadah pergerakan adalah mengambil kendali penuh, meramu strategi, dan memastikan kebijakan yang berpihak pada rakyat itu benar-benar sampai dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Persoalan dan fenomena kesulitan yang dialami masyarakat hari ini sesungguhnya hadir jelas di pelupuk mata, selalu terlihat dan nyata. Jangan sampai kita abai hanya dengan melihat tanpa melakukan apa-apa. Kondisi yang nyata di depan mata itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, melainkan harus dihimpun, diolah, dan diproduksi menjadi data yang valid. Keberadaan mereka harus terverifikasi secara faktual, siapa yang sesungguhnya sedang mengalami degradasi ekonomi, siapa yang jatuh bebas, dan siapa yang benar-benar layak dibantu. Data-data krusial ini seharusnya dirampungkan dalam forum internal, didiskusikan secara serius, lalu dijadikan acuan kebijakan yang presisi. Sehingga ketika program bantuan digulirkan, ia benar-benar tepat sasaran, menyentuh mereka yang paling membutuhkan, dan tidak meleset dari target.
Kita tidak bisa hidup dalam ruang hampa. Hari ini masyarakat dihimpit oleh berbagai persoalan yang sangat kompleks. Ada pengaruh kondisi lokal, dinamika situasi wilayah, hingga getaran ekonomi global yang membuat daya beli masyarakat anjlok. Banyak warga yang terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, akibat situasi yang berubah begitu cepat. Para pemimpin dan pihak yang bertanggung jawab mestinya memiliki kesadaran tinggi terhadap hal ini. Mereka harus peka menangkap gejala sosial, melihat siapa yang menjadi korban dari perubahan zaman, dan menjadikan itu semua sebagai dasar untuk memproduksi langkah-langkah yang solutif.
Sudah saatnya kita memperbaiki sistem komunikasi dan koordinasi vertikal. Konsep “Bantu Rakyat” harus segera diubah dari sekadar wacana menjadi darah dan daging dari setiap gerakan organisasi. Pimpinan di daerah harus berani berinovasi, para pengelola harus aktif mencari gagasan, dan seluruh elemen harus bergerak seirama. Jangan sampai konsep yang begitu hebat dan berpihak pada rakyat ini justru “mati suri” atau kehilangan energi karena tidak didukung oleh terjemahan teknis yang kuat dari struktur di bawahnya. Rakyat menunggu bukti nyata, organisasi menunggu gerakan nyata, dan daerah menuju kemajuan nyata.(*)









