Kesaksian Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem di depan Kongres selama dua hari terakhir mengungkapkan pandangan yang meresahkan mengenai kekuasaan eksekutif.
Dengar pendapat Kongres sering kali dianggap sebagai teater politik. Anggota parlemen mengajukan pertanyaan tajam, saksi memberikan jawaban yang matang dan hati-hati, dan pertukaran pendapat menjadi bagian dari perdebatan partisan sehari-hari. Namun terkadang percakapan tersebut mengungkapkan sesuatu yang lebih mendalam tentang bagaimana pemerintah memahami otoritasnya sendiri.
Noem menolak mengatakan apa yang tampaknya dituntut saat ini: bahwa pemerintah AS tidak boleh mengeluarkan keputusan seperti itu sebelum faktanya diketahui.
Ditekan oleh anggota parlemen tentang klaimnya bahwa dua orang Amerika yang dibunuh oleh agen federal di Minneapolis – Alex Pretti, seorang perawat perawatan intensif, dan Renee Good, istri dan ibu dari tiga anak – adalah “teroris domestik,” Noem berulang kali menolak untuk mencabut label tersebut. Dia menyatakan simpatinya kepada keluarga tersebut. Dia mencatat bahwa penyelidikan sedang berlangsung. Pada satu titik dia bersikeras, “Saya tidak menyebutnya teroris domestik. Saya mengatakan itu tampaknya merupakan insiden” terorisme domestik. Namun dia menolak mengatakan apa yang tampaknya menjadi tuntutan saat ini: bahwa pemerintah tidak boleh mengeluarkan keputusan seperti itu sebelum faktanya diketahui.
Penolakan itu penting. “Teroris dalam negeri” adalah salah satu tuduhan paling serius yang dapat dilontarkan oleh pemerintah Amerika modern. Ini menandakan bahwa seseorang bukan hanya sekedar diduga berbuat salah, tapi masuk dalam kategori musuh negara.
Ketika pemerintah menerapkan label tersebut kepada warganya, terutama setelah terjadinya kekerasan yang mematikan, tuduhan tersebut mempunyai bobot moral dan politik yang sangat besar. Dan jika hal ini terjadi tanpa tuduhan atau bukti yang diajukan di pengadilan, hal ini mulai menyerupai sesuatu yang dirancang untuk dicegah oleh sistem konstitusi Amerika. Bahkan penjabat direktur Imigrasi dan Bea Cukai mengatakan kepada para senator bulan lalu bahwa dia tidak melihat bukti yang menunjukkan bahwa klaim terorisme itu benar.
Kemudian dalam sidang hari Selasa, Noem berpendapat bahwa pernyataannya mencerminkan laporan yang datang dari agen di lapangan selama apa yang dia gambarkan sebagai situasi kacau. Namun penjelasan tersebut hanya menggarisbawahi permasalahannya: Laporan awal lapangan bukanlah pengganti bukti yang diuji melalui proses hukum.
Dalam sistem hukum AS, tuduhan hanyalah permulaan dari sebuah proses.
Pejabat pemerintah yang menuduh masyarakat melakukan kesalahan bukanlah hal yang aneh. Jaksa melakukannya setiap hari. Namun dalam sistem hukum AS, tuduhan hanyalah permulaan dari sebuah proses. Jaksa mengajukan tuntutan, hakim mengevaluasi kemungkinan penyebabnya, bukti disajikan, dan juri pada akhirnya menentukan bersalah atau tidak.
Tuduhan tersebut merupakan awal dari proses hukum, namun bukan penggantinya.
Struktur Konstitusi mencerminkan perbedaan tersebut. Sistem tersebut dengan sengaja memisahkan kewenangan untuk menyelidiki, menuduh, dan menentukan kesalahan. Penegakan hukum mengumpulkan fakta, dan jaksa mengajukan tuntutan. Pengadilan dan juri memutuskan hasilnya.
Setiap langkah melibatkan institusi yang berbeda karena para perumus memahami bahwa ketika kekuatan-kekuatan tersebut digabungkan, risiko penyalahgunaan akan meningkat secara dramatis.
Para penjajah melihat risiko ini secara langsung. Pihak berwenang Inggris pernah mempunyai kekuasaan besar untuk menuduh individu melakukan ketidaksetiaan atau melakukan tindakan kriminal tanpa pengawasan hukum yang berarti. Proses hukum di lembaga-lembaga seperti Star Chamber memungkinkan pejabat pemerintah untuk menyelidiki, menuduh, dan menghukum dalam sistem otoritas yang sama.
Praktik-praktik tersebut membantu membentuk pemahaman Amerika tentang kebebasan. Para pendirinya menyimpulkan bahwa tuduhan yang dilontarkan pemerintah harus selalu diuji melalui proses yang independen.
Keyakinan ini terdapat dalam Konstitusi dan Bill of Rights. Amandemen Keempat mengharuskan pemerintah untuk membujuk hakim sebelum memasuki ruang pribadi tertentu. Amandemen Kelima menjamin bahwa tidak seorang pun boleh dirampas hidup atau kebebasannya tanpa proses hukum yang semestinya. Amandemen Keenam memastikan bahwa kesalahan pidana ditentukan di hadapan juri.
Secara keseluruhan, perlindungan tersebut mencerminkan sebuah prinsip yang sederhana namun kuat: Pemerintah tidak dapat memutuskan sendiri kesalahannya.
Mahkamah Agung telah berulang kali menegaskan kembali prinsip tersebut, bahkan dalam konteks keamanan nasional yang paling ekstrim sekalipun. Dalam Hamdi v. Rumsfeld, pemerintah berpendapat bahwa mereka dapat menahan warga negara Amerika yang ditangkap di Afghanistan sebagai “pejuang musuh” yang sebagian besar didasarkan pada tekad internalnya.









