Wahana Van Allen A milik NASA diperkirakan akan masuk kembali ke atmosfer bumi hampir 14 tahun setelah peluncuran. Dari tahun 2012 hingga 2019, pesawat ruang angkasa dan kembarannya, Van Allen Probe B, terbang melalui sabuk Van Allen, cincin partikel bermuatan yang terperangkap oleh medan magnet bumi, untuk memahami bagaimana partikel diperoleh dan hilang. Sabuk tersebut melindungi Bumi dari radiasi kosmik, badai matahari, dan angin matahari yang terus mengalir yang berbahaya bagi manusia dan dapat merusak teknologi, jadi memahaminya sangatlah penting.
Pada tanggal 9 Maret 2026, Angkatan Luar Angkasa AS memperkirakan bahwa pesawat ruang angkasa seberat sekitar 1.323 pon akan kembali memasuki atmosfer sekitar pukul 19.45 EDT pada tanggal 10 Maret 2026, dengan ketidakpastian +/- 24 jam. NASA memperkirakan sebagian besar pesawat ruang angkasa akan terbakar saat melakukan perjalanan melalui atmosfer, namun beberapa komponen diperkirakan akan bertahan saat masuk kembali. Risiko bahaya yang menimpa siapa pun di bumi tergolong rendah, yaitu sekitar 1 dari 4.200 orang. NASA dan Space Force akan terus memantau masuknya kembali dan memperbarui prediksi.
Awalnya dirancang untuk misi dua tahun, Van Allen Probe A dan B diluncurkan pada 30 Agustus 2012, dan mengumpulkan data yang belum pernah ada sebelumnya mengenai dua sabuk radiasi permanen Bumi – dinamai sesuai nama ilmuwan James Van Allen – selama hampir tujuh tahun. NASA mengakhiri misinya setelah kedua pesawat luar angkasa itu kehabisan bahan bakar dan tidak lagi mampu mengarahkan diri ke arah Matahari.
Pesawat luar angkasa Van Allen adalah pesawat ruang angkasa pertama yang dirancang untuk beroperasi dan mengumpulkan data ilmiah selama bertahun-tahun di dalam sabuk, sebuah wilayah di sekitar planet kita di mana sebagian besar misi pesawat ruang angkasa dan astronot meminimalkan waktu untuk menghindari radiasi yang merusak.
Misi NASA, yang dikelola dan dioperasikan oleh Lab Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins, menghasilkan beberapa penemuan besar tentang cara kerja sabuk radiasi selama masa pakainya, termasuk data pertama yang menunjukkan keberadaan sabuk radiasi ketiga sementara, yang dapat terbentuk pada saat aktivitas matahari intens.
Ketika misi tersebut berakhir pada tahun 2019, analisis menemukan bahwa pesawat ruang angkasa tersebut akan kembali memasuki atmosfer bumi pada tahun 2034. Namun, perhitungan tersebut dilakukan sebelum siklus matahari saat ini, yang terbukti jauh lebih aktif dari yang diperkirakan. Pada tahun 2024, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa Matahari telah mencapai titik maksimum matahari, sehingga memicu peristiwa cuaca luar angkasa yang intens. Kondisi ini meningkatkan hambatan atmosfer pada pesawat ruang angkasa melebihi perkiraan awal, sehingga mengakibatkan masuknya kembali lebih awal dari perkiraan.
Data dari misi Van Allen Probe NASA masih memainkan peran penting dalam memahami cuaca luar angkasa dan dampaknya. Dengan meninjau arsip data dari misi tersebut, para ilmuwan mempelajari sabuk radiasi yang mengelilingi Bumi, yang merupakan kunci untuk memprediksi bagaimana aktivitas matahari berdampak pada satelit, astronot, dan bahkan sistem di Bumi seperti komunikasi, navigasi, dan jaringan listrik. Dengan mengamati wilayah dinamis ini, Van Allen Probe berkontribusi dalam meningkatkan prakiraan peristiwa cuaca luar angkasa dan potensi konsekuensinya.
Van Allen Probe B, kembaran dari pesawat luar angkasa yang masuk kembali, diperkirakan tidak akan masuk kembali sebelum tahun 2030.









