Jerman telah lama menawarkan perlindungan pendapatan yang lebih kuat selama sakit dibandingkan banyak negara lain. Kredit foto: Alexander Gafarro/Shutterstock
Pekerja di Jerman dapat menghadapi pengurangan upah karena mengambil cuti sakit berdasarkan proposal yang sedang dibahas oleh para pemimpin politik dan kelompok bisnis, menurut laporan di pers Jerman dan internasional. Belum ada undang-undang nasional yang disahkan, dan belum ada undang-undang formal yang diperkenalkan, namun perdebatan terfokus pada apakah peraturan yang ada saat ini terlalu merugikan pengusaha dan perekonomian yang lebih luas.
Diskusi ini menindaklanjuti perhatian baru terhadap ketidakhadiran karena sakit di Jerman, di mana karyawan rata-rata 14,8 hari sakit per tahun, salah satu angka tertinggi yang tercatat di Eropa menurut angka yang dikutip dalam laporan terbaru. Para pendukung reformasi berargumentasi bahwa ketidakhadiran dalam waktu lama dan cuti sakit jangka pendek menciptakan tekanan bagi dunia usaha yang sudah menghadapi lemahnya pertumbuhan ekonomi dan kekurangan tenaga kerja. Jerman telah lama menawarkan perlindungan pendapatan yang lebih kuat selama sakit dibandingkan banyak negara lain. Dalam kebanyakan kasus, pekerja yang tidak dapat bekerja karena sakit tetap menerima gaji penuh dari pemberi kerja hingga enam minggu. Jika penyakit berlanjut melebihi jangka waktu tersebut, perusahaan asuransi kesehatan menurut undang-undang kemudian dapat memberikan manfaat sakit berdasarkan aturan terpisah.
Perubahan Gaji Hari Pertama Dilaporkan Sedang Dipertimbangkan
Salah satu usulan yang diberitakan di media adalah mengizinkan pemberi kerja untuk memotong atau menghilangkan gaji sejak hari pertama sakit ketidakhadiran dalam beberapa kasus. Gagasan lain yang dilaporkan adalah memberi penghargaan kepada pekerja dengan catatan ketidakhadiran yang rendah melalui satu hari cuti tahunan tambahan. Belum ada tindakan yang disetujui, dan para menteri belum mengumumkan kebijakan final.
Usulan tersebut telah dikaitkan dengan Kanselir Friedrich Merz dan anggota koalisi pemerintahan, meskipun rinciannya masih belum jelas. Laporan menunjukkan bahwa tujuannya adalah untuk mencegah pekerja mengambil cuti karena penyakit ringan sambil tetap memberikan dukungan untuk kondisi medis yang lebih serius. Tidak ada rancangan undang-undang yang diterbitkan di tingkat federal. Setiap perubahan hukum memerlukan dukungan resmi pemerintah dan kemungkinan besar akan mendapat pengawasan dari parlemen, organisasi pengusaha, serikat pekerja, dan pakar hukum. Perlindungan tenaga kerja di Jerman sudah mapan, yang berarti perubahan pada tunjangan sakit hampir pasti akan memicu perdebatan publik dan politik yang signifikan sebelum menjadi undang-undang.
Aturan yang Ada Sudah Mengizinkan Kontrol Beberapa Pengusaha
Peraturan Jerman saat ini sudah mewajibkan pekerja untuk memberi tahu pemberi kerja jika mereka tidak dapat bekerja karena sakit. Pengusaha juga dapat meminta bukti ketidakmampuan medis sejak hari pertama ketidakhadiran, meskipun banyak tempat kerja yang memintanya kemudian. Dalam praktiknya, persyaratan dapat bervariasi tergantung pada kontrak, kebijakan perusahaan, dan kesepakatan bersama. Hal ini berarti dunia usaha telah memiliki beberapa alat untuk memantau ketidakhadiran tanpa mengubah sistem pembayaran yang lebih luas. Kritik terhadap usulan baru ini berpendapat bahwa penegakan peraturan yang ada harus dipertimbangkan sebelum mengurangi upah bagi pekerja yang benar-benar sakit. Mereka juga memperingatkan bahwa banyak penyakit tidak dapat dinilai hanya dari penampilannya saja dan bahwa karyawan mungkin merasa tertekan untuk bekerja ketika mereka seharusnya dalam masa pemulihan.
Pakar kesehatan telah lama memperingatkan bahwa presenteeism, yaitu orang yang masuk kerja saat sakit, dapat mengurangi produktivitas dan menyebarkan infeksi di kantor, pabrik, dan tempat kerja yang berhubungan dengan ruang publik. Penentang pemotongan gaji mengatakan sanksi finansial dapat meningkatkan risiko tersebut, terutama selama periode musim dingin ketika penyakit pernafasan lebih umum terjadi. Tekanan Ekonomi yang Lebih Luas di Balik Perdebatan Diskusi ini terjadi pada saat Jerman berada di bawah tekanan untuk meningkatkan kinerja ekonomi setelah periode pertumbuhan yang lemah. Pengusaha di beberapa sektor mengeluhkan biaya, kekurangan staf dan menurunnya daya saing. Beberapa tokoh bisnis mengatakan tingkat ketidakhadiran yang lebih rendah akan membantu output dan mengurangi tekanan pada staf yang tersisa.
Serikat pekerja dan kelompok pekerja diharapkan menolak segala upaya untuk mengurangi pendapatan selama sakit. Mereka cenderung berpendapat demikian pekerja tidak seharusnya menanggung biaya masalah ekonomi melalui gaji yang lebih rendah ketika mereka sakit. Perwakilan buruh juga sebelumnya mengatakan bahwa kepercayaan antara pengusaha dan staf dapat dirusak oleh kebijakan yang dibangun berdasarkan kecurigaan adanya pelecehan. Untuk saat ini, isu tersebut masih menjadi diskusi politik dan bukan merupakan reformasi hukum yang sudah pasti. Para pekerja di Jerman belum kehilangan hak atas upah sakit, dan belum ada pemotongan gaji secara nasional bagi mereka yang mengambil cuti sakit. Apakah proposal tersebut akan berkembang menjadi undang-undang akan bergantung pada keputusan yang masih harus diambil di Berlin.









