SELUMA,- Gedung Daerah Serasan Seijoan mendadak riuh pada Selasa malam, 12 Mei 2026. Puluhan tamu penting dan ratusan perwakilan kafilah dari seluruh penjuru Bumi Raflesia berkumpul dalam Malam Ta’aruf, menandai dimulainya perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXVII tingkat Provinsi Bengkulu.
Malam itu bukan sekadar perkenalan. Di tengah suasana yang khidmat, sebuah simbol supremasi berpindah tangan. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, pemegang takhta juara umum sekaligus tuan rumah edisi sebelumnya, secara resmi menyerahkan piala bergilir kepada Bupati Seluma, Teddy Rahman. Penyerahan piala ini menjadi sinyal bahwa Kabupaten Seluma kini memikul tanggung jawab penuh sebagai penyelenggara.
Bupati Teddy Rahman, didampingi Wakil Bupati Gustianto, tampak menyambut hangat kedatangan para tamu. Hadir di antaranya perwakilan Gubernur Bengkulu yang diwakili Kepala Biro Kesra, jajaran pengurus LPTQ, hingga para Dewan Hakim yang akan bertugas.
Dalam pidatonya, Teddy mengingatkan bahwa MTQ jangan sampai terjebak pada urusan panggung dan podium semata. Ia menekankan pentingnya substansi di balik kompetisi.
“MTQ bukan sekadar seremoni atau lomba membaca indah. Ini adalah sarana memperkuat syiar, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kecintaan masyarakat pada Al-Qur’an,” kata Teddy di hadapan para undangan.
Pesan Teddy jelas prestasi adalah bonus, namun karakter adalah tujuan utama. Ia berharap dari panggung Seluma ini akan lahir generasi muda yang tidak hanya fasih melantunkan ayat suci, tetapi juga memiliki kedalaman akhlak.
“Kami berharap lahir generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, berprestasi, dan mampu membawa nilai-nilai ini dalam kehidupan bernegara,” tuturnya menambahkan.
Sebagai tuan rumah, Teddy juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kafilah dari kabupaten dan kota yang telah hadir. Ia memastikan Seluma akan berusaha menjadi tuan rumah yang ramah selama seluruh rangkaian lomba berlangsung.
Malam Ta’aruf berakhir dengan suasana hangat. Selepas acara formal, para pejabat daerah, dewan hakim, dan perwakilan kafilah tampak berbincang akrab sebuah tradisi penting untuk mencairkan ketegangan sebelum para qari dan qariah beradu kemampuan di mimbar tilawah mulai esok hari.(*)
Penulis : Agung Madala
Editor : Andreas Putra









