KEPAHIANG,- DP2KBP3A Kepahiang menegaskan komitmennya menempatkan penanganan stunting sebagai program prioritas utama. Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, kasus stunting salah satunya dipicu faktor krusial, yakni pernikahan dini serta minimnya pengetahuan orang tua mengenai komposisi asupan makanan yang bergizi dan sehat bagi anak.
Kepala DP2KBP3A, Linda Rospita, menjelaskan bahwa dampak stunting tidak boleh disepelekan karena tidak hanya menghambat tumbuh kembang fisik anak, melainkan juga mengganggu perkembangan mental dan kognitif sang buah hati.
“Kami akan memassifkan sosialisasi mengenai pencegahan stunting. Apalagi ini nantinya akan berkaitan dengan kondisi kualitas masyarakat Kepahiang dan masa depan generasi penerus yang akan datang,” ungkap Linda tegas.
Linda memaparkan bahwa stunting dipicu oleh kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama akibat komposisi makanan anak yang tidak seimbang. Menurutnya, pemenuhan zat gizi seperti karbohidrat, mineral, protein, dan vitamin harus diberikan secara proporsional. Ia juga meluruskan kesalahpahaman di masyarakat bahwa makanan bergizi selalu identik dengan harga yang mahal.
“Kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan anak mengalami gizi buruk dan berujung pada stunting. Untuk itu, penting memperhatikan kandungan makanan yang diberikan. Protein tidak selalu harus daging yang mahal, bisa diganti dengan protein nabati yang terjangkau namun kaya nutrisi, seperti yang terdapat pada kacang-kacangan atau tempe,” jelasnya.
Fokus pada Masa Kehamilan, Laktasi, dan Sanitasi
Selain pola makan anak, DP2KBP3A juga menyoroti pentingnya intervensi sejak dini, yaitu pada masa kehamilan dan masa menyusui (laktasi). Ibu hamil dan menyusui yang kekurangan nutrisi berpotensi besar melahirkan anak yang rawan stunting.
“Ini semua berkaitan erat dengan pengetahuan dan akses terhadap makanan bergizi. Sebab itu, edukasi berkelanjutan berkaitan dengan masa kehamilan dan laktasi sangatlah penting,” ulas Linda.
Tak kalah penting, faktor lingkungan juga memegang peranan besar. Lingkungan yang kotor dapat memicu infeksi berulang pada anak yang mengganggu penyerapan gizi. Oleh karena itu, DP2KBP3A mengimbau masyarakat untuk terus memperhatikan kebersihan sanitasi dan drainase di sekitar tempat tinggal.
Menyadari bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendirian, DP2KBP3A Kepahiang dalam waktu dekat akan memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kami akan segera berkoordinasi dan berkolaborasi secara intensif dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya di lingkungan Pemkab Kepahiang. Dengan bergerak bersama, kita optimis dapat menangkal dan menurunkan kembali angka stunting di Kabupaten Kepahiang demi mewujudkan generasi yang sehat dan berdaya saing,” tutup Linda.(*/adv)
Penulis : Defi Parisa
Editor : Tiwi Supiah









