BENTENG,- Ahmad Syarkawi tak ingin berlama-lama larut dalam seremoni pelantikan. Politikus Partai Golkar ini telah menyisir tumpukan persoalan yang selama ini mengendap di akar rumput. Di tangannya, kini tertumpu harapan warga Taba Penanjung yang bertahun-tahun merindukan akses infrastruktur yang layak.
Syarkawi sadar betul, posisinya sebagai pengganti antar-waktu (PAW) menuntut kerja ekstra cepat. Salah satu yang ia soroti adalah kondisi jembatan gantung di Taba Penanjung. Bagi warga setempat, jembatan tersebut bukan sekadar konstruksi besi dan kayu, melainkan urat nadi utama yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan ekonomi.
“Ini soal akses. Tanpa jembatan yang mumpuni, warga seperti terisolasi di tanah sendiri. Aspirasi ini yang akan saya kawal habis-habisan dalam pembahasan anggaran,” kata Syarkowi saat ditemui diusai prosesi pelantikan, Senin (4/5/2026)
Persoalan infrastruktur memang menjadi “menu utama” dalam daftar perjuangan Syarkawi. Tak hanya jembatan, ia juga membidik pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Selama ini, para petani di Bengkulu Tengah kerap mengeluh karena ongkos angkut hasil bumi yang membengkak akibat rusaknya akses jalan menuju perkebunan. Syarkawi memandang, penguatan JUT adalah kunci untuk memotong rantai kemiskinan di sektor agraria.
Namun, ia tak hanya bicara soal pembangunan fisik. Syarkawi turut menyoroti tata kelola Dana Desa yang kerap menjadi polemik di tingkat bawah. Ia berjanji akan memperketat fungsi pengawasan agar kucuran dana dari pusat itu benar-benar mendarat di kebutuhan riil masyarakat desa, bukan sekadar habis untuk proyek seremonial yang minim dampak.
“Setiap rupiah dari Dana Desa harus dirasakan manfaatnya oleh warga. Jangan sampai ada ketimpangan antara pembangunan di atas kertas dengan realita di lapangan,” tuturnya dengan nada tegas.
Bagi pria yang menggantikan almarhum Nuril Aksah ini, gedung parlemen hanyalah terminal sementara. Tujuan akhirnya adalah memastikan suara dari pelosok desa, mulai dari soal pendidikan hingga kesehatan, terdengar nyaring di meja-meja rapat komisi.
Kini, publik Bengkulu Tengah menunggu, sejauh mana “napas baru” di fraksi beringin ini mampu mengubah tumpukan aspirasi itu menjadi kebijakan yang nyata.(*)
Penulis : Andreas
Editor : Tiwi Supiah









